This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label BAHAN AJAR. Show all posts
Showing posts with label BAHAN AJAR. Show all posts

Tuesday, October 24, 2017

Pengertian Istilah dan Methode Penangkapan - Rumah Pertanian

Pengertian Istilah 
Istilah metode sering digunakan secara bergantian dengan istilah-istilah teknik, cara, sistem ataupun teknologi.  Oleh karena itu diperlukan batasan pengertian untuk membedakan istilah-istilah tersebut, sebagai berikut :
  1. Metode adalah cara kerja bersistem teratur yang didasarkan pada ilmu pengetahuan untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
  2. Teknik adalah pengetahuan dan keterampilan membuat atau melakukan sesuatu.
  3. Cara adalah jalan atau aturan sistem melakukan sesuatu.
  4. Sistem adalah seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh.
  5. Teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan ilmu pengetahuan eksakta, atau pemanfaatan ilmu pengetahuan melalui penggunaan akal dan alat.

Penangkapan ikan (fishing) adalah kegiatan menangkap atau mengumpulkan biota yang hidup dalam perairan, baik perairan laut maupun perairan umum.  Menurut ensiklopedi perikanan, penangkapan ikan (fishing) adalah beberapa aktivias, selain dari riset imiah yang diselenggarakan oleh sesuatu kapal riset ilmiah, yang melibatkan penangkapan ikan, pengambilan, atau pemanenan ikan; atau beberapa usaha untuk melakukannya; atau beberapa aktivitas yang layak diharapkan untuk menghasilkan dalam penangkapan, pengambilan, atau pemanenan ikan dan beberapa operasional di laut dalam mendukung kegiatan ini. Dengan demikian maka :

Metode penangkapan ikan (fishing method) adalah kemampuan yang berlandaskan ilmu pengetahuan eksakta, atau pemanfaatan ilmu pengetahuan  tentang sifat biologi ikan melalui penggunaan metode dan teknis peralatan tangkap untuk mengumpulkan biota yang hidup dalam perairan, baik perairan laut maupun perairan umum, serta pengembangan dan aplikasi dari ilmu dan teknologi alami untuk proses optimasi dalam operasi penangkapan ikan.

Taktik penangkapan (fishing tactics) adalah cara menemukan, mengumpulkan, memanfaatkan sifat biologi ikan dan cara mengoperasikan alat tangkap dalam upaya meningkatkan efisiensi teknis suatu metode penangkapan.

Trip penangkapan (fishing trip) adalah jumlah pelayaran untuk tujuan penangkapan dalam satu satuan waktu.

Keberhasilan penangkapan fishing success), kadang-kadang digunakan sebagai sinonim dari hasil tangkapan per unit usaha (CPUE).

Intensitas penangkapan (fishing intensity), pada umumnya, dan terutama untuk penggunaan alat tangkap trawl, usaha penangkapan ikan menggunakan per unit area (misalnya jumlah jam pengoperasian trawl per 100 mil kuadrat).  Dalam teori pendugaan stok, usaha penangkapan ikan yang efektif (atau standar) adalah per unit area harus sebanding dengan tingkat kematian akibat penangkapan ikan melalui hubungan F = q(f/A) dimana (f/A) adalah intensitas penangkapan ikan dan �q� adalah koefisien kemampuan tangkap.

Kemampuan menangkap ikan (fishing power) dari satu kapal atau satu alat penangkap ikan.  Diukur dengan hasil tangkapan per unit waktu, untuk kepadatan hewan air yang ditentukan.  Kemampuan menangkap ikan bergantung pada: (a) area (atau volume) yang dipengaruhi oleh alat penangkap ikan, berhubungan dengan total area yang dicakup oleh stok (a/A); (b) jumlah hewan yang  ada di area (atau volume) itu, berhubungan dengan stok keseluruhan (n/N); dan (c) perbandingan (p) dari hewan yang ada di area (atau volume) yang dapat ditangkap dengan hasil yang baik oleh alat tangkap.  Jika stok (N) tersebar secara acak dalam area penyebaran (A), proporsi dari stok yang ada di sektor yang dipengaruhi oleh alat tangkap (n/N) akan sepadan dengan (a/A) dan hasil tangkapan (pa/AN).  Dengan kata lain, produk p(a/A) akan memberi suatu ukuran kematian karena penangkapan (fishing mortality) secara langsung.

Zona penangkapan (fishing zone) adalah suatu daerah dengan lebar yang berubah-ubah (hingga 200 mil laut) yang dimulai dari garis pantai atau daerah pesisir sekitarnya, di dalamnya ada pengawasan terhadap akses asing dan domestik dalam memanfaatkan sumberdaya ikan.

Kapal penangkap ikan (fishing vessel) adalah berbagai jenis kapal atau perahu lain yang digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya perairan hayati atau dalam mendukung beberapa aktivitas yang berhubungan dengan hal tersebut.  Definisi ini dapat meliputi beberapa kapal penolong atau satu atau lebih kapal pembantu di laut yang berkaitan dengan penangkapan ikan, tetapi tidak termasuk kapal yang memiliki persiapan, persediaan, penyimpanan, pendinginan, transportasi, atau pengolahan (misalnya kapal induk).

Armada penangkap ikan (fishing fleet) adalah suatu kumpulan kapal-kapal penangkap ikan dari suatu negara tertentu (misalnya armada penangkap ikan Indonesia) atau penggunaan alat penangkap ikan tertentu (armada trawl).

Alat penangkapan ikan (fishing gear) adalah perlengkapan yang digunakan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan, misalnya perahu umpan, jaring insang, pancing ulur, pukat tarik, rawai, trawl, pukat cincin, perangkap, dan kapal trawl. Setiap alat penangkap ikan mempunyai berbagai bentuk.

selingan dan hiburan


BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel ALAT TANGKAP Artikel BAHAN AJAR Artikel MATERI Artikel METHODE Artikel PENANGKAPAN yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul: Pengertian Istilah dan Methode Penangkapan - Rumah Pertanian
link : Pengertian Istilah dan Methode Penangkapan - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

Saturday, September 9, 2017

Tingkah laku ikan - Rumah Pertanian

Tingkah laku ikan
          Tingkah laku ikan sangat erat berhubungan dengan metode penangkapan ikan.  Perlu dikuasai pengetahuan tentang reaksi ikan terhadap alat penangkapan ikan tertentu, juga pengaruh macam-macam umpan yang digunakan dalam perikanan pancing, tonda dan rawai.  Reaksi tingkah laku ikan terhadap sumber cahaya tertentu, terhadap rumpon, terhadap gelombang suara dan arus listrik.  Kesemuanya itu dapat dimanfaatkan untuk efisiensi operasi penangkapan ikan.

          Pemanfaatan sifat biologi ikan dalam menerapkan metode penangkapan yang tepat, dikategorikan ke dalam dua kegiatan utama, yaitu :
�         Mengontrol kebiasaan ikan, mempengaruhi, menarik perhatian atau menggiring kelompok ikan ke suatu daerah yang memungkinkan pengoperasian alat tangkap tertentu secara efektif dan efisien.
�         Pengontrolan peralatan tangkap, yang menyangkut persoalan bagaimana ikan dapat dikumpulkan atau diangkat dari dalam air ke atas kapal dengan suatu unit alat tangkap.

Sifat biologi ikan yang sudah dikenal dan dimanfaatkan sebagai dasar dalam metode penangkapan ikan adalah :
�         Sifat bergerombol (schooling species)
�         Tertarik pada cahaya (phototaxis positive)
�         Beruaya (migration)
-          Diurnal migration
-          Nocturnal migration
-          Tidal migration
-          Oceanic migration
�         Tersebar luas (wide dispersion)
�         Rakus (voracious)

�         Food habit and feeding habits


�         Living habitat

BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel BAHAN AJAR Artikel MATERI Artikel METHODE Artikel PERIKANAN yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:Tingkah laku ikan - Rumah Pertanian
link : Tingkah laku ikan - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

ALAT TANGKAP PERIKANAN - Rumah Pertanian

Alat tangkap ikan
            Alat tangkap ikan merupakan satu faktor yang terutama dan paling kompleks untuk dipelajari, karena ada banyak sekali tipe dan variasinya sesuai dengan tujuan penggunaannya.  Alat tangkap ikan ini telah berkembang di berbagai negara di dunia selama jangka waktu yang sudah lama.  Sampai sekarang, mulai dari alat tangkap ikan yang primitif sampai yang paling modern masih tetap digunakan olah nelayan.

            Seleksi penentuan alat tangkap ikan yang akan digunakan tidak hanya tergantung dari faktor metode penangkapan ikan dan efisiensi penangkapan saja, tetapi juga dari faktor kesesuaian dengan perahu dan kapal ikan yang digunakan; juga bagaimana efeknya terhadap stok populasi ikan,  apakah operasinya akan ekonomis, apakah penggunaannya akan mempengaruhi tenaga kerja nelayan dan kondisi sosial, dan sebagainya. 

Alat penangkapan ikan diklasifikasikan sesuai dengan metode penangkapan yang diterapkan, terdiri atas 9 jenis sebagai berikut :
(1) Menghadang :
Mengarahkan dan menyesatkan (pound net, set net, sero)
Menjerat (set gill net)

(2) Melingkari :
Menyaring (purse seine, beach seine)
Menjerat (encircling gill net)

(3) Menyerok :
Horizontal (trawl, pajala, payang)
Vertikal (stick held dip net, bagan dan jenis-jenis lift net lainnya)

(4) Menarik perhatian :
Rangsangan cahaya (purse seine, bagan dan light fishing lainnya)
Rangsangan umpan (hooks, bubu)
Tempat berlindung (bubu, rumpon, sero gantung)

(5) Memerangkap :
Menghadang dan menyesatkan (set net, sero, pound net)
Memberikan rangsangan (bubu)

(6) Melumpuhkan :
Melukai (harpoon, spear)
Membius (tuba, zat kimia)
Mengeruhkan
Explosive (dinamit)
Electricity

(7) Mengejutkan (encircling gill net)
(8) Memompa (fish pump)
(9) Menjepit dan mengait.



BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel ALAT TANGKAP Artikel BAHAN AJAR Artikel MATERI yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:ALAT TANGKAP PERIKANAN - Rumah Pertanian
link : ALAT TANGKAP PERIKANAN - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan - Rumah Pertanian

Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan
Penerapan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan adalah penggunaan suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampak lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut merusak dasar perairan (benthic disturbance), kemungkinan hilangnya alat tangkap, serta kontribusinya terhadap polusi. 

Faktor lain bagaimana dampaknya terhadap keanekaragaman sumberdaya (biodiversity) dan target resources yaitu komposisi hasil tangkapan, adanya by catch serta tertangkapnya ikan-ikan muda.  Secara teknis,  suatu alat tangkap ikan dikatakan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria: mempunyai selektivitas yang tinggi, tidak merusak habitat, menghasilkan ikan berkualitas tinggi, tidak membahayakan operator, produksi tidak membahayakan konsumen, by-catchnya rendah, tidak berdampak buruk terhadap biodiversity, tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi, menguntungkan dan dapat diterima secara sosial  (Monintja, 2000). 

Proses seleksi alat tangkap ramah lingkungan dan berkelanjutan dilakukan  dengan menggunakan metode Analitical Hierarchi Process (AHP).  Metode ini merupakan penyempurnaan dari sistem skoring, dimana dengan metode AHP dapat diketahui interaksi dari berbagai faktor yang berpengaruh terhadap alat yang diseleksi.  Diagram alir proses  seleksi dapat  dilihat pada  Gambar 46.

Beberapa kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat keramahan suatu alat tangkap terhadap habitat terumbu  karang (Monintja, 2000) adalah :
(1)  Mempunyai selektivitas yang tinggi
Berbagai jenis pancing (angling gear) dan gillnet mempunyai selektivitas yang paling tinggi karena dapat didesain supaya mampu menyeleksi ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Hal ini disebabkan karena ukuran  ikan yang tertangkap pada pancing dan drift gillnet sesuai dengan ukuran/nomor mata pancing dan ukuran mata jaring. Bom ikan dan sianida mempunyai selektivitas yang paling rendah karena semua jenis ikan dalam semua ukuran  yang berada dalam areal penangkapan dapat tertangkap.

(2) Tidak merusak habitat
Seluruh alat penangkapan ikan yang telah dikenal selama ini, dinilai memiliki dampak pengoperasian  yang kecil terhadap habitat apabila nelayan menerapkan metode penanghkapan ikan secara tepat,  kecuali bom ikan dan sianida.  Bom ikan dan  dan sianida tidak hanya merusak habitat ikan tetapi juga dapat membunuh ikan-ikan muda termasuk larva ikan. Radius kerusakan habitat terumbu karang oleh bom ikan dapat mencapai 30 m dari pusat ledakan, sedangkan pada operasional alat tangkap racun ikan (sianida) luas area yang terpengaruh dapat mencapai radius 2 km.  

(3) Menghasilkan ikan berkualitas tinggi
Berbagai jenis pancing (angling gear), bubu (trap net), sero tancap (pound net) dan bagan apung (lift net)  adalah jenis-jenis alat penangkapan ikan yang telah dikenal menghasilkan ikan masih dalam keadaan hidup dan segar. Ikan yang tertangkap dengan bom ikan dan sianida memiliki kualitas rendah karena ikan yang tertangkap biasanya tulang dan perutnya hancur dan lembek, sehingga mudah busuk.  


 
Gambar 46.  Diagram alir proses seleksi teknologi penangkapan berwawasan lingkungan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan usaha penangkapan (Monintja dkk, 2002)


(4) Tidak membahayakan nelayan
Telah diteliti bahwa alat tangkap yang paling aman bagi keselamatan nelayan adalah : pancing tangan (handline), menyusul bagan perahu, gillnet dasar dan pancing tonda, Pengoperasian alat tangkap dengan resiko paling tinggi adalah bom ikan dan sianida. 

Dalam pengoperasian bom ikan diperlukan suatu kehati-hatian dari operator, apabila ceroboh, maka dapat berdampak fatal terhadap para nelayan. Beberapa jenis alat penangkapan ikan lainnya yang memerlukan keterampilan yang tinggi dalam pengoperasiannya seperti pole and line, pukat cincin (purse seine), pukat udang (shrimp trawl), juga beresiko dan dapat membahayakan nelayan apabila tidak berhati-hati pada waktu pengoperasiannya.

(5)  By-catch rendah
Hampir semua alat tangkap yang telah didesain dan dioperasikan dengan menerapkan metode yang tepat memiliki nilai  by-catch relatif rendah, kecuali bom ikan dan sianida yang memiliki nilai relatif by-catch tinggi, karena seluruh jenis dan ukuran ikan dapat tertangkap.

(6) Dampak terhadap keanekaragaman sumberdaya hayati (biodiversity) rendah. Alat tangkap yang memiliki dampak negatif terhadap biodiversity rendah adalah semua jenis pancing (angling gear).  Hal ini disebabkan karena spesies target penangkapan kedua jenis alat tangkap ini sangat jelas dan terfokus. Alat tangkap lainnya yang dampak negatif  biodiversity  relatif rendah adalah jaring insang yang dioperasikan di permukaan perairan (surface gillnet). Bagan perahu, sianida dan bom ikan dinilai memiliki dampak negatif yang tinggi terhadap biodiversity .

(7)  Tidak membahayakan ikan yang dilindungi
Jenis alat tangkap yang tidak menangkap ikan yang dilindungi adalah: pancing tonda dan pancing cumi.  Alat yang paling berpeluang menangkap ikan yang dilindungi adalah bom ikan, sianida, dan berbagai jenis jaring pukat. 



BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel ALAT TANGKAP Artikel BAHAN AJAR Artikel MAKALAH Artikel MATERI yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan - Rumah Pertanian
link : Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

Konsep Pengelolaan Pada Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan - Rumah Pertanian

Konsep Pengelolaan Pada Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Supaya hal ini dapat diwujudkan maka diperlukan alternatif manajemen yakni cara atau pendekatan dalam mengelola sumberdaya. Gulland (1977) mengajukan enam pendekatan manajemen sumberdaya perikanan sebagai berikut :
1) Pembatasan alat tangkap,
dapat dilakukan dengan pendekatan atau kebijakan selektifitas alat tangkap dalam manajemen sumberdaya perikanan yaitu metode penangkapan ikan yang bertujuan untuk mencapai atau mempertahankan struktur umur yang paling produktif dari stok ikan.  Kebijakan ini memberikan kesempatan pada ikan yang masih muda untuk tumbuh, bertambah nilai ekonominya, serta kemungkinan bereproduksi sebelum ikan tersebut ditangkap.  Beberapa contoh kebijakan tentang hal ini adalah pembatasan minimum terhadap ukuran mata jaring, pembatasan ukuran minimum mata pancing, serta pembatasan ukuran mulut perangkap pada kondisi terbuka.

Pelarangan alat tangkap ikan, dapat dilakukan secara permanen atau sementara waktu yang bertujuan untuk melindungi sumberdaya ikan dari penggunaan alat tangkap yang merusak atau destruktif.  Kebijakan ini dapat dilakukan dengan alasan-alasan sosial politis untuk melindungi nelayan  yang menggunakan alat tangkap ikan yang kurang atau tidak efisien.  Jenis alat dan metode penangkapan ikan yang dilarang karena tingkat destruktifnya sangat besar, misalnya dengan menggunakan racun kimiawi maupun racun yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, aliran listrik, bom, dinamit, dan bahan peledak lain.

Menurut para peneliti International Center for Living Aquatic Resource Manajement (ICLARM, 1992), cara-cara destruktif dilakukan oleh nelayan karena kesalahan manajemen sumberdaya perikanan sehingga akhirnya akan terjadi kelebihan penangkapan ikan (overfishing).  Overfishing dibagi dalam beberapa tipe tergantung pada tingkat keseriusannya yakni :
a. Recruitment overfishing, yaitu kondisi ikan-ikan muda (juvenil) yang ditangkap secara berlebihan sehingga tidak ada pertumbuhan stok ikan dewasa yang berasal dari ikan dengan kelompok usia yang lebih muda, atau dengan kata lain pertumbuhan stok ikan dewasa hanya terjadi melalui penambahan ukuran berat ikan dewasa yang tersisa.

b. Biological overfishing, yaitu kondisi penangkapan ikan yang telah mencapai tahap melebihi hasil tangkapan meksimum lestari (MSY). Hal ini berarti stok ikan yang ditangkap melebihi kemampuan maksimum stok ikan untuk tumbuh secara alami dan berkelanjutan sehingga akan membuat stok sumberdaya ikan menurun secara drastis dan akhirnya membuat perikanan berhenti secara total.

c. Economically overfishing, yaitu upaya-upaya penangkapan ikan secara berlebihan melalui investasi armada penangkapan secara besar-besaran, namun hasil tangkapan ikan yang diperoleh secara agregat hanya pada tingkat suboptimum (lebih rendah dari tingkat maksimum yang dapat dihasilkan). Kondisi ini berarti industri penangkapan ikan beroperasi melebihi potensi maksimumnya secara ekonomi, oleh karena itu kondisi ini tidak lagi efisien.

d. Malthusian overfishing, dapat terjadi jika ketiga tipe atau bentuk overfishing di atas tetap berlangsung yakni ada sedikit ikan yang tersedia di laut dan diperebutkan banyak nelayan.  Hal ini dapat terjadi jika pemerintah sebagai manajer sumberdaya tidak mampu dan tidak berhasil menata dan mengelola kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan rakyatnya.

2) Penutupan daerah penangkapan,
berarti menghentikan kegiatan penangkapan ikan di suatu perairan pada musim tertentu atau secara permanen berdasarkan alasan-alasan ekologi dan biologi (ekobiologi). Penutupan daerah penangkapan dalam jangka panjang biasangan dikaitkan dengan usaha-usaha konservasi jenis ikan tertentu yang memang dalam status terancam kepunahan, atau di daerah tempat ikan berpijah (spawning ground) atau diasuh (nursery ground).  Kebijakan penutupan penangkapan ikan yang dilakukan secara selektif dengan cara mengkhususkan daerah yang bersangkutan bagi kelompok nelayan dengan skala usaha atau alat penangkapan ikan tertentu dikenal dengan nama coastal belt atau fishing belt yaitu kawasan dengan radius atau jarak tertentu dari garis pantai yang diperuntukan bagi kelompok atau golongan nelayan tertentu.  Di Indonesia kebijakan fishing belt juga dilakukan walaupun tidak begitu efektif dan dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :
1)   perairan pada radius 4 mil laut dari garis pantai,
2)   perairan pada radius 4 mil laut, hingga 12 mil laut dari pantai
3)   perairan di atas 12 mil laut.

Hingga saat ini belum ada aturan main yang jelas mengenai teknologi perikanan yang diizinkan di setiap fishing belt oleh pemerintah pusat karena belum tentu akan diterima begitu saja oleh pemerintah kabupaten dan kota karena adanya teknologi spesifik serta karakteristik setiap daerah yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Oleh karena itu, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota bertanggung jawab untuk mendefinisikan dan menentukan lebih jauh kebijakan yang tepat bagi setiap fishing beltnya.

3) Penutupan musim penangkapan ikan,
merupakan pendekatan manajemen yang umumnya dilakukan yang sistem penegakan hukumnya sudah maju dan berdasarkan sifat sumberdaya ikan yang sangat bergantung pada musim.  Hal ini dapat dilakukan bergantung pada pertimbangan tentang siklus hidup ikan yang lahir, besar dan mati pada waktu tertentu.  Penutupan kegiatan penangkapan dapat dilakukan selama satu musim, beberapa musim, satu tahun, atau beberapa tahun tergantung penilaian tingkat kekritisan sumberdaya perikanan.
Untuk memilih alternatif manajemen, sangat bergantung pada kekhasan, situasi dan kondisi perikanan yang dikelola serta tujuan pengelolaan atau pembangunan.  Pemilihan alternatif manajemen sebaiknya berdasarkan kriteria-kriteria berikut :
1)   diterima nelayan (secara ekonomis, sosial, budaya dan politik),
2)   diimplementasikan secara gradual,
3)   fleksibilitas,
4)   implementasinya didorong efisiensi dan inovasi,
5)   pengetahuan yang sempurna tentang peraturan serta biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti peraturan tersebut, dan
6)   ada implikasi terhadap tenaga kerja, pengangguran dan keadilan.

4) Kuota penangkapan ikan,
yaitu pendekatan manajemen sumberdaya perikanan secara rasional melalui pemberian hak kepada industri atau perusahaan perikanan untuk menangkap atau mengambil sejumlah ikan tertentu dari perairan berupa TAC per nelayan, per kapal, atau per armada perikanan.  Ada 3 cara mengimplementasikan pendekatan TAC yakni
1)   menentukan TAC secara keseluruhan pada skala nasional atas jenis ikan tertentu atau perairan tertentu.  TAC tersebut kemudian diumumkan kepada setiap nelayan, kapal, armada menangkap ikan sampai secara total mencapai jumlah TAC tersebut.
2)   Membagi TAC kepada setiap nelayan, kapal, atau armada oleh pemerintah sebagai manajer dapat menentukan keberpihakannya pada nelayan atau kapal tertentu terutama kepada nelayan berskala kecil, kemudian sisa TAC dialokasikan kepada nelayan berskala besar, misalnya dengan setiap kapal dikaitkan dengan kapasitas palkanya yaitu kapasitas palka yang lebih kecil volumenya mendapat persentase TAC lebih besar.
3)   Membatasi kegiatan atau mengurangi efisiensi penangkapan ikan sedemikian rupa sehingga TAC tidak terlampaui.  Cara ini secara ekonomis tidak efisien dan juga sering tidak akurat dilaksanakan karena kesulitan dalam mengatur upaya penangkapan ikan serta memprediksi jumlah ikan yang mungkin ditangkap setiap kapal.

5) Pengendalian upaya penangkapan, yaitu pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkaitan dengan pembatasan kapasitas penangkapan atau jumlah alat tangkap ikan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil ikan yang ditangkap serta meningkatkan kinerja ekonomi industri melalui pengurangan upaya atau kapasitas penangkapan ikan yang berlebihan. Kapasitas upaya penangkapan ikan adalah suatu variabel yang keberadaannya ditentukan beberapa variabel lain, seperti ukuran mesin kapal, ukuran kapal, ukuran alat penangkapan, dan teknologi alat bantu untuk mendeteksi, menemukan, dan mengumpulkan ikan.  Upaya lainnya yakni menentukan jumlah unit penangkapan ikan yang boleh dioperasikan melalui sistem perizinan.

6) Pengendalian secara ekonomi, yakni penggunaan variabel ekonomi sebagai instrumen pengendalian upaya penangkapan ikan.  Variabel ekonomi tersebut terdiri dari harga ikan, harga faktor input, subsidi, pajak, biaya untuk memperoleh izin, atau royalti. Contohnya dengan harga ikan yang melemah akan menimbulkan efek kepada nelayan untuk tidak melakukan kegiatan penangkapan atau pemberian kredit nelayan dengan bunga tinggi atau penetapan pajak yang tinggi dapat mengurangi kapasitas penangkapan yang dilakukan oleh nelayan.


BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel ALAT TANGKAP Artikel BAHAN AJAR Artikel MAKALAH Artikel MATERI Artikel METHODE yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:Konsep Pengelolaan Pada Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan - Rumah Pertanian
link : Konsep Pengelolaan Pada Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

Teknologi Penangkapan Ikan Berkelanjutan - Rumah Pertanian

Teknologi Penangkapan Ikan Berkelanjutan
Setelah alat tangkap tersebut diketahui kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan, maka alat tangkap tersebut ditinjau dari aspek sustainability atau keberlanjutan usaha penangkapan.  Beberapa kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat keberlanjutan usaha penangkapan menurut Monintja (2000) adalah :
(1) Hasil tangkapan tidak melebihi Total Allowed Catch (TAC)
Jenis alat tangkap yang paling aman terhadap kelestarian sumberdaya didasarkan pada kemampuan tangkap yang dimiliki oleh masing-masing alat tangkap, sedangkan yang tergolong paling tidak aman terhadap kelestarian sumberdaya disebabkan karena pengoperasian alat tangkap ini tidak terkendali atau yang jumlahnya sangat banyak.

Perbandingan relatif dampak yang mungkin ditimbulkan dari operasi suatu alat tangkap terhadap kemungkinan terjadinya overfishing atau hasil tangkapan melebihi angka yang diperbolehkan untuk dimanfaatkan,  yaitu :
Handline karena pengoperasian alat tangkap ini paling aman terhadap kelestarian sumberdaya, karena dalam prinsip operasinya yang menangkap ikan satu demi satu, sehingga peluang terjadinya overfishing dalam operasi alat tangkap ini kecil. 

Rawai, bubu lego, bubu tanam dan gillnet dasar karena peluang  hasil tangkapan untuk melebihi TAC juga kecil dan tidak berbeda jauh dengan alat tangkap handline walaupun kemampuan tangkap alat tangkap ini sedikit lebih besar. 
Alat tangkap lainnya yang mempunyai kemampuan tangkap yang lebih tinggi, namun  unit penangkapan ini jumlahnya sedikit, maka dampaknya terhadap kelestarian sumberdaya diduga tidak terlalu besar.

(2) Konsumsi  BBM Rendah
Konsumsi BBM pada pengoperasian alat penangkapan ikan, terutama yang armadanya menggunakan mesin penggerak merupakan sesuatu hal yang tak dapat dihindari. Hal ini mengakibatkan biaya operasionalnya tinggi sehingga membutuhkan kemampuan manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik untuk keberlanjutan usaha. Tingkat ketergantungan operasional antar alat tangkap ikan karang terhadap pasokan BBM paling rendah pada alat tangkap yang masih menggunakan tenaga penggerak dayung ataupun layar karena konsumsi BBM hanya diperuntukan terutama untuk penerangan.

(3) Secara hukum, legal
Seluruh alat penangkapan ikan dapat dioperasikan secara legal apabila semua persyaratan dan perijinan telah dipenuhi, dan tidak melanggar Undang2 yang sudah ditetapkan serta peraturan pemerintah atau keputusan presiden serta peraturan menteri dan lainnya yg berlaku.

(4) Jumlah investasi kecil
Jenis alat tangkap yang paling rendah investasinya  untuk dikembangkan memiliki peluang keberlanjutan usaha lebih baik bila dibandingkan dengan alat penangkapan ikan yang membutuhkan investasi besar/tinggi.

(5) Mempunyai pasar yang baik
Alat tangkap yang paling memiliki prospek pemasaran yang baik adalah alat penangkapan ikan  hasil tangkapannya dipasarkan dalam keadaan hidup atau masih dalam keadaan segar.  Prospek pemasarannya kurang baik ditunjukkan oleh alat penangkapan yang hasil tangkapannya memiliki kualitas rendah, baik jenis maupun mutunya.


BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel BAHAN AJAR Artikel MAKALAH Artikel MATERI Artikel PENYULUHAN Artikel TEKNOLOGI yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:Teknologi Penangkapan Ikan Berkelanjutan - Rumah Pertanian
link : Teknologi Penangkapan Ikan Berkelanjutan - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR

Sunday, August 6, 2017

METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP - Rumah Pertanian



METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP
1.  Pancing
          Prinsip pancing ialah melekatkan umpan pada mata kail, lalu kail diberi tali; setelah umpan dimakan ikan, mata kail akan juga termakan dan dengan tali manusia menarik ikan ke darat/perahu.
          Beberapa segi positif perikanan pancing :
a.    Struktur dan operasi penangkapan mudah dilaksanakan
b.    Organisasi usaha kecil, dengan modal sedikit, usaha sudah dapat berjalan
c.    Syarat daerah penangkapan ikan relatif sedikit dan dapat dengan mudah di pilih
d.    Pengaruh cuaca relatif sedikit
e.    Ikan yang tertangkap seekor demi seekor sehingga kesegarannya terjamin
Beberapa segi negatif perikanan pancing :
1)   Dibandingkan dengan perikanan jaring, jumlah hasil sedikit dalam waktu yang singkat
2)   Memerlukan umpan yang akan berpengaruh terhadap operasi penangkapan
3)   Keahlian perorangan nelayan sangatlah menonjol
4)   Bersifat pasif, artinya menunggu ikan memakan umpan dahulu baru ikan tertangkap
Untuk dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan pancing tanpa merubah dengan alat tangkap lain, adalah sebagai berikut :
1)   Menambah satuan pancing
2)   Menambah jumlah perahu
3)   Menambah mata kail per satuan pancing
4)   Mencari lokasi penangkapan yang baru dengan armada semut.
Jenis-jenis pancing dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1)   Pancing tangan (hand line)
2)   Pancing tonda (troll line)
3)   Huhate (skipjack pole and line)
4)   Rawai dasar tetap (set bottom long line)
5)   Rawai tegak (vertical long line)
6)   Rawai tuna (tuna long line)

1.1.  Pancing Tangan (Hand Line)
          Metode fishing line yang paling sederhana adalah hand line yang arti harfiahnya adalah memancing dengan tali yang dipegang tangan. Pancing tangan (hand line) adalah salah satu jenis alat penangkapan ikan yang sudah lama dikenal nelayan.  Menurut Vont Brant (1962), pancing termasuk �fishing with line� yang dilengkapi dengan mata kail.
Memancing dilakukan dengan cara menangkap ikan dengan menggnakan kail, atas dasar satu ikan satu kail.  Prinsip penggunaan pancing adalah dengan melekatkan umpan pada mata pancing, lalu pancing diberi bertali; setelah umpan dimakan maka mata pancing akan juga termakan dan dengan tali manusia menarik ikan itu ke perahu/darat (Ayodhyoa, 1975). 

 

Tabel.   Contoh spesifikasi alat pancing

Jenis Pancing
Bagian tali
Data Bahan Pancing
Material
Diameter (mm)
Panjang (m)
Selar



Ikan dasar
Pengantar
Utama
Cabang

Pengantar
Utama
Cabang
PA Mono
PA Mono
PA Mono

PA Mono
PA Mono
PA Mono
0,8
0,3
0,2

1,5
1,2
1,0
50,00 �  100,00
14,5 �  29,50
0,15

100,00  -  200,00
50,00
1,00
Jenis Pancing
Bagian Alat
Data mata pancing, pemberat dan tali

Material
Ukuran (No)
Jumlah (bh)
Berat (gr)
Selar


Ikan dasar
Mata Pancing
Pemberat

Mata Pancing
Pemberat
SSt
Pb

SSt
Pb
20


12 - 7
10    -  25
1

1      -  2
1

100 - 300


300 - 400



1.2.  Pancing Tonda (Troll Line/Trolling)
          Alat penangkapan ini dikembangkan mulai tahun 1965 di Hawai, yang merupakan modifikasi dari berbagai jenis tonda yang sederhana.  Umpan buatan terbuat dari bahan plastik berwarna-warni :  merah, putih, kuning dan ungu dan dibungkus disamping itu ada juga yang menggunakan bulu-bulu ayam, mata kail terbuat dari bahan yang mengkilat.
          Hasil penelitian alat ini sangat efektif untuk menangkap ikan-ikan pelagis yang senang bergerombol dan rakus, seperti jenis-jenis tuna dan cakalang.
Alat utama penangkapan ikan dengan trolling adalah : tali pancing, karet pencegah tarikan, swivel (kili-kili), tali cabang dan mata pancing



Tabel . Contoh spesifikasi pancing tonda
Bagian
Bahan
Diameter (mm)
Panjang (m)
Jumlah (bh)
Outrigger
Tali utama  1
                 2
Depressor 3
Swivel
Hook
Bambu
Nylon
Nylon
Kayu
Pb
Sst

0,9
0,73
242,00
No. 4 ;  5
No. 15
6
19,50
9,00
1



2
2

Perahu berukuran 3 � 5 ton bahan fbre glass dengan panjang 10 � 12 meter dengan kecepatan 7 � 10 knot saat operasi penangkapan


Gambar 1. Sketsa pancing tonda (troll line) dan alat bantu mekaniknya


1.3.  Huhate (Pole and line)
          Alat tangkap Pole and line terdiri dari 3 bagian besar yaitu : tangkai, tali dan mata pancing.  Tangkai yang terbuat dari bambu mampunyai syarat-syarat sebagai berikut :
(1)Bambu mampunyai ruas yang pendek dan rongga dalam tidak terlalu besar (hampir padat)
(2)Tidak mudah patah, pada bagian ujung agak melengkung dan mempunyai daya lentur yang baik.
(3)Bambunya cukup tua dan tidak rusak.
Dewasa ini, tangkai pada pole and line telah diganti dengan menggunakan bahan dari fibreglass, sehingga lebih kuat, ringan dan lentur.



Gambar 2. Sketsa pancing joran


          Operasi penangkapan pada skipjack pole and line diawali dengan mempersiapkan segala keperluan (BBM, perbekalan, dan sebagainya).  Kapal skipjack kemudian berlayar menuju daerah penangkapan ikan umpan.  Umpan hidup yang sangat diperlukan untuk menangkap ikan cakalang dengan pole and line dapat diperoleh dengan cara menangkap sendiri menggunakan �boo uke ami� atau membeli dari nelayan yang menangkapnya menggunakan bagan apung.  Ikan-ikan umpan hidup tersebut kemudian dimasukan ke dalam palkah ikan umpan dan skipjack pole and line siap berangkat menuju daerah penangkapan ikan cakalang.
          Ikan umpan yang baik adalah ikan dan jenis yang mempunyai sifat sebagai berikut:
1)   Disukai oleh ikan cakalang,
2)   Bila dilempar dari kapal penangkap, terus berenang cepat mendekati kapal serta tetap pada permukaan laut di sekitar kapal,
3)   Tahan hidup selama mungkin dalam keadaan berdesak-desakan serta tetap aktif dalam bak umpan,
4)   Ukuran dari ikan umpan tersebut cocok dengan kemauan ikan cakalang (antara 3 cm sampai 15 cm),
5)   Warna ikan terang/putih keperak-perakan serta mengkilap bila kena cahaya matahari,
6)   Mudah didapat dalam jumlah banyak
          Di daerah penangkapan ikan cakalang, nelayan menemukan gerombolan cakalang umumnya dengan petunjuk; misalnya burung-burung yang menukik-nukik menyambar di permukaan laut, ikan beruaya bersama-sama dengan kayu-kayu hanyut, bersama-sama ikan paus dan ikan lumba-lumba, dan lain sebagainya.  Bila menemukan gerombolan ikan cakalang, maka nakoda mengusahakan agar:
�         Gerombolan ikan cakalang berada diantara matahari dan kapal,
�         Mendekati gerombolan ikan cakalang dari arah datangnya angin, artinya melawan angin,
�         Kapal memotong arah jalan yang dituju oleh gerombolan ikan.




1.4.  Rawai (Long Line)
a. Rawai dasar (bottom long line)
Rawai dasar (bottom long line), ditempatkan di dekat dasar terdiri dari tali utama yang kadang-kadang cukup panjang serta tali cabang dengan jarak tertentu atau berdekatan.



Gambar 3. Sketsa rawai dasar (bottom long line)

b. Rawai hanyut/permukaan (drift/surface long line)
Rawai hanyut/permukaan dioperasikan di permukaan atau pada kedalaman tertentu dari permukaan dengan bantuan pelampung yang diatur jaraknya.  Alat tangkap ini dapat sangat panjang dan tali cabangnya biasanya lebih panjang dan lebih besar jaraknya dibandingkan dengan rawai dasar.


Gambar 4.  Sketsa rawai hanyut/permukaan (drift/surface long line)
dan rawai tegak (vertical long line)

c. Rawai tuna (tuna long line)
Operasi penangkapan rawai tuna (tuna long line) menggunakan umpan ikan yang telah mati, tetapi dalam keadaan segar dan utuh, untuk mempertahankan kondisi umpan yang demikian, maka ikan tersebut disimpan dalam palkah pendingin ataudi  es.  Jenis-jenis ikan umpan yang digunakan pada rawai tuna, antara lain: Layang (Decapterus sp), Kembung (Rastrelliger sp), Bandeng (Chanos chanos), Belanak (Mugilidae), Ikan terbang (Cypsilurus sp), Lemuru (Sardinella longiceps) dan Tembang (Sardinella fimbriata).
          Panjang umpan yang digunakan berkisar 15�25 cm, dan cara pemasangannya adalah dengan mengikatkan mata pancing tepat pada bagian sirip dada/pada bagian mata (lihat Gambar 5.).

 



Gambar 5.  Cara pemasangan ikan umpan pada mata pancing

          Sebelum memulai operasi penangkapan, terlebih dahulu semua peralatan disusun rapi di bagian buritan kapal dengan rincian sebagai berikut:
7)   Menempatkan basket-basket, bak umpan dan pelampung pada posisi yang memudahkan pengambilan.
8)   Memasang pelampung pada tali pelampung yang sudah terangkai dengan tali utama pada basket pertama (rangkaian ini berurutan pada setiap basket).
9)   Menyambung ujung akhir dari tali utama pada basket pertama dengan ujung tali utama pada basket berikutnya, dan dipasang tali pelampung serta pelampung (demikian seterusnya sampai basket yang terakhir).





Gambar 6.  Sketsa rawai tuna (tuna long line)

Setelah persiapan selesai, dan alat sudah siap untuk dipasang, maka pemasangan alat (setting) dapat segera dilakukan sesuai dengan urutan berikut ini:
1)   Penerjunan perangkat pelampung (pelampung dan tali pelampung) yang telah terangkai dengan basket pertama.
2)   Tali utama tetap diulur oleh petugas khusus, dan petugas pelempar tali cabang siap memasang umpan pada pancing.
3)   Dilanjutkan dengan pemasangan dan pelemparan rangkaian tali cabang yang telah berisi umpan.
4)   Pekerjaan (2) dan (3) dilakukan sampai pada ujung akhir dari tali utama suatu basket, kemudian, kembali dilakukan pelemparan perangkat pelampung untuk basket berikutnya sampai terakhir (lihat Gambar 7.).


Gambar 7.  Sketsa posisi ABK pada saat penawuran (setting) rawai tuna



Gambar 8.  Sketsa posisi ABK pada saat penarikan (hauling) rawai tuna

          Penarikan alat (hauling) dapat dilakukan setelah alat direndam selama 3-4 jam, diawali dari pelampung pertama dilepas, atau yang terakhir.  Penarikan alat dapat dilakukan sesuai dengan urutan berikut:
1)   Penambilan perangkat pelampung dan menariknya ke atas kapal, hal ini dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau line hauler.
2)   Melepas rangkaian tali pelampung dan tali utama, dan kapal tetap melaju menyusur/searah dengan tali utama sambil tetap menarik dan menggulungnya, serta menempatkannya pada basket yang tersedia (dalam unit basket).
3)   Pada saat tali cabang sudah naik, rangkaiannya dapat segera dilepas (untuk yang menggunakan peniti rawai/snapper) dan yang menggunakan simpul dapat digulung menjadi satu dalam unit basket.
4)   Apabila ada hasil tangkapan, maka secepatnya dinaikan ke atas kapal dengan bantuan �ganco� (pengait). Perlu diperhatikan bahwa untuk produk tuna segar, hanya bagian kepala saja yang boleh luka, sebab luka pada badan akan tidak memenuhi syarat produk segar (lihat Gambar 8).

2.  Bubu (Trap Net)
          Metode penangkapan yang diterapkan untuk semua jenis bubu (trap net) pada umumnya sama, yaitu dipasang di daerah penangkapan yang sudah diketahui menjadi habitat target tangkapan (ikan dasar, kepiting, udang, gurita, dan sebagainya yang bisa ditangkap dengan bubu).  Pemasangan bubu ada yang dipasang satu demi satu (pemasangan sistem tunggal), ada juga yang dipasang secara beruntai (pemasangan sistem rawai).  Waktu pemasangan setting dan pengangkatan hauling dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari, sore hari, sebelum matahari terbenam atau malam hari tergantung dari nelayan yang mengoperasikannya.  Lama perendaman buubu di perairan ada yang hanya direndam beberapa jam, ada yang direndam satu malam, ada juga yang direndam sampai 3 hari 3 malam dan bahkan ada yang direndam sampai 7 hari 7 malam.



Gambar 9.  Sketsa bubu (trap net)

Alat tangkap bubu sifatnya pasif sehingga dibutuhkan pemikat atau umpan agar ikan yang kan dijadikan target tangkapan mau memasuki bubu.  Jenis umpan yang dipakai sangat beraneka ragam, ada yang memakai umpan hidup, potongan ikan, atau jenis umpan lainnya.  Penempatan umpan di dalam bubu pada umumnya diletakan di tengah-tengah bubu, baik di bagian bawah, tengah atau di bagian atas dari bubu dengan cara diikat atau digantungkan dengan atau tanpa pembungkus umpan.
          Bubu jaring (fyke net) biasanya dipakai di perairan dangkal, terdiri dari kantong bulat atau kerucut yang dibentuk memakai rangka bulat atau rangka lainnya dan ditutup dengan jaring.  Alat ini dilengkapi dengan sayap atau penajur yang berfungsi menggiring ikan ke arah kantongnya.  Bubu jaring dipasang didasar perairan memakai jangkar, pemberat atau patok dan dapat dipergunakan satu per satu atau bergandengan beberapa buah.



Gambar 10.  Sketsa bubu jaring (fyke net)


          Bubu tiang (stow net) biasanya hanya dipakai disungai, muara sungai dan daerah berarus kuat.  Biasanya berbentuk kerucut atau piramid dan dipasang dengan bantuan jangkar atau patok menghadang arus.  Mulutnya terbuka dengan bantuan rangka atau tali temali.



Gambar 11.  Sketsa bubu tiang (stow net)

BAHAN AJAR - Selamat datang Pembaca Blog Rumah Pertanian dimanapun Anda berada saat ini, kali ini menyajikan artikel yang berjudul "BAHAN AJAR", kami telah mempersiapkan artikel kali ini dengan sebaik-baiknya agar Anda dapat membaca dan mengambil informasi yang sedang Anda cari didalamnya. mudah-mudahan isi postingan dari Artikel ALAT TANGKAP Artikel BAHAN AJAR Artikel MATERI Artikel METHODE yang kami hadirkan ini dapat membawa banyak manfaat bagi Anda. Baiklah, selamat membaca.

Judul:METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP - Rumah Pertanian
link : METODE PENANGKAPAN IKAN SEHUBUNGAN DENGAN ALAT TANGKAP - Rumah Pertanian

Baca juga


BAHAN AJAR